Buddhism

HH Dalai Lama – pengamatan tiga dasawarsa

Pertama kali saya bertemu dengan His Holiness Dalai Lama adalah pada tahun 1982, di Yogya. Beliau sedang berkunjung ke Indonesia – Jakarta, Borobudur, Bali. Saat itu saya masih bekerja di Majalah Mutiara, anak perusahaan PT Sinar Harapan. Mendengar beliau ada di Yogya saya tertarik untuk meliput, dan berhasil meyakinkan redaktur saya untuk menugaskan saya untuk itu meskipun sudah ada wartawan Sinar Harapan dan fotografer lainnya.

Pagi itu saya menunggu di lobby hotel beliau menginap, liftnya berada di balik pojok tembok. Setelah kira-kira 15 menit, saya yakin Beliau akan segera tiba. Cepat-cepat saya berlutut mengikat tali sepatu yang lepas. Entah bagaimana menjelaskannya, seolah ada angin segar yang menghembus kencang, dan sesaat kemudian beliau muncul setelah berbelok dari belakang pojok tembok tadi. Saya seperti bengong saja, wajah berseri-seri HH Dalai Lama seolah memancarkan cahaya, lalu ia langsung menatap diriku. Beliau langsung  ketawa lebar, melihat saya kelabakan, lalu menghampiri dan spontan memapah saya yang sedang tergopoh-gopoh berusaha berdiri secepatnya (tali sepatu belum sempat diikat!).

Itu kesan pertama saya – HH Dalai Lama spontan, hangat, tidak memandang bulu. Beliau kemudian memegang erat tangan saya sambil jalan menuju mobil – tidak peduli para protokoler, tidak peduli sekuriti yg lihat kejadian itu. Akrab, padahal baru saja kali itu bertemu.

Hari-hari berikut saya ikuti rombongan sampai mereka berangkat dari Bali, semua berlangsung bak mimpi. HH Dalai Lama setiap ketemu menyalami dengan hangat, mengajak bicara, santai tapi tanggap. Dari ini semua mulai terbentuk suatu kesan yang hingga kini, setelah 28 tahun berhubungan dengan Beliau, tidak berubah melainkan malah bertambah kuat, semakin jelas.

Beliau mewujudkan unsur penting dalam Buddhisme yang seringkali agak tertinggal, yaitu welas asih yang proaktif. Mungkin ini kedengaran aneh, karena kita sering dengar bahwa penganut Buddhis itu mesti punya welas asih. Namun dalam kenyataan saya melihat tidak sedikit yang welas asihnya itu “passif” saja, sekedar.

Pada sosok HH Dalai Lama welas asih yang saya lihat selama bertahun-tahun ini mengandung unsur keberanian dan enersi luar biasa. Keberanian dan enersi terkandung dalam welas asih Beliau mendorongnya untuk mengulurkan tangan kepada siapa saja, bahkan pada mereka yang telah berusaha menyakitinya, welas asihnya mendorong Beliau untuk selalu berupaya melintasi segala batasan antar agama dan antar bangsa, welas asihnya membuatnya tidak takut dengan situasi yang mungkin akan mempersulit dirinya sendiri, welas asihnya mendorong Beliau untuk terus terbang kian kemari memenuhi undangan untuk mengajar di mancanegara.

Namun Beliau tidak takut tegas – saya sendiri pernah merasakan teguran cukup keras dari Beliau suatu saat. Walau keras samasekali tidak terasa unsur kebencian atau marah biasa sedikitpun. Teguran itu begitu tepat pada sasarannya, saya akhirnya sadar bahwa memang saya salah dan tidak beralasan untuk membantah. Tepat saat saya menyadari hal itu, walaupun saya tidak bicara atau memberi isyarat apapun, Beliau menatap tajam dan tiba-tiba lenyaplah segala ekspresi ‘marah’. Beliau kemudian kembali berbicara tentang hal lain, tidak ada rasa tidak senang dsb yang biasanya ada pada orang yang baru marah, seolah orang tua yang memarahi anak kecil. Saat itu saya yakin betul bahwa Beliau membaca pikiran saya seperti orang membaca buku terbuka. Kendati begitu saya tidak merasa “tidak enak” karena setelah sekian lama saya yakin pada welas asihnya, bahwa segala yang dilakukan adalah demi kebaikan orang lain dan ini dilakukan dengan kebijaksanaan yang luar biasa.

Di sisi lain HH tidak pula takut mengakui kekeliruan kalau bisa dibuktikan salah tanggap. Beliau siap mendengar siapa saja selama orang itu berucap jujur isi hatinya dan tidak berusaha bersembunyi dibelakang kesopanan yang semu belaka. Lambat laun saya mulai sadar bahwa welas asihnya sebenarnya sudah lama berkembang menjadi bodhicitta yang murni dan spontan. Secara klasik, definisi bodhicitta, atau batin pencerahan, adalah tekad bulat untuk mencapai keBuddhaan, agar bisa membantu makhluk lain bahagia dan bebas dari derita, yang dibarengi dengan berkembangnya prajna atau pandangan bijaksana yang paham penuh keadaan realita.

Secara nyata yang saya lihat pada Beliau adalah bahwa Bodhicitta membuat seseorang jauh melampaui batasan-batasan yg biasa kita temui pada seseorang.

Anda yang membaca boleh saja berpikir bahwa ini penilaian subjektif seorang murid tentang gurunya, dan memang tidak sepenuhnya salah. Namun inilah yang saya alami selama berkali-kali dengan Beliau, baik dari percakapan yang ringan maupun yang lebih serius. Pertimbangan dan analisa yang diberi Beliau selalu cerah dan logis. Pertanyaan-pertanyaannya selalu tajam dan relevan. Dan jangan pikir bahwa HH Dalai Lama tidak ‘up-to-date’ tentang berita dunia. Setiap pagi setelah bangun subuh untuk bermeditasi dan sembahyang beberapa jam, Beliau rutin nonton BBC News sambil makan pagi. Beliau juga paling senang tukar pikiran dengan berbagai pakar ilmu sains maupun yang lainnya.

Saya masih ingat ketika kebetulan saya diajak untuk menghadiri konperensi beliau dengan lima ilmuwan quantum physics terkemuka di dunia sebagai pengamat pasif. Kebetulan sekretaris Beliau waktu itu keliru membuat tanggal audiensi, dan saya datang jauh-jauh dari Indonesia pas saat konperensi akan dimulai. Dengan tersipu-sipu sang sekretaris menjelaskan situasinya dan mohon maaf, lalu mungkin karena guilty feeling ia menawarkan kesempatan itu. Wah, ketiban rezeki! Jiwa oportunisku tak terbendung, saya terima. Siapa yang akan menolak kesempatan seperti itu? Ketika saya masuk ke ruangan HH Dalai Lama ketawa dan menyalami saya seolah-olah saya adalah undangan resmi, padahal pasti sadar bahwa saya selundupan sekretarisnya.

Pada pembukaan acara tersebut, HH mengatakan bahwa dia terbuka: bilamana para ilmuwan bisa membuktikan bahwa ada yg dalam teori Buddhis tidak benar, ia bersedia mengubah keyakinannya terhadap hal itu. Mereka sedikit tercengang. Maka berlangsunglah 5 hari yang luar biasa, saya pribadi seolah sedang mendapat pencerahan langsung (sayang hanya ‘seolah’)– percakapan ilmuwan itu diikuti dan dikomentari dengan sangat saksama oleh beliau. Para ilmuwan itupun terlihat sangat terkesan oleh kemampuan Beliau mengikuti, dan juga komentar tajam Beliau tentang hal-hal yang parallel dalam pengetahuan Buddhis. Dua hari setelah konperensi selesai akhirnya saya dapat audiensi. Beliau tiba-tiba muncul ke dalam ruangan dengan langkah tegas, dan kata-kata antusias langsung meletup dari bibirnya bahkan sebelum ia duduk: “Wah menarik sekali ya, ternyata banyak sekali yang bisa didapatkan dari pertemuan itu. Dan mereka (para ilmuwan) pun mengakui mereka mentok, harus ada cara observasi lain yang memerlukan keadaan batin yang ditingkatkan melalui meditasi atau serupa. Kita benar-benar saling mengisi”. Demikian sikapnya yang terbuka untuk segala hal yang dapat dibuktikan secara rasional, dan kesediaan Beliau untuk saling sharing. Saya tinggal ngangguk-ngangguk, padahal  jujur kata sebagian besar konperensi itu di luar kemampuan saya untuk memahaminya!!

Perhatian dan ingatan beliau bagi semua yang berhubungan dengannya legendaris, baik terhadap yang bertemu dengannya sekilas maupun untuk waktu lebih lama. Setelah mendapatkan Hadiah Nobel tahun 89 kesibukan HH Dalai Lama menerima tamu dan berkunjung, mengajar dan sebagainya bertambah – padahal sebelumnya pun jadwal sudah padat. Meski demikian Beliau tetap saja mengingat orang yang pernah dijumpainya, dan berusaha menyediakan waktu, walaupun hanya 10-15 menit, apalagi untuk ‘kawan-kawan lama’ demikian istilah Beliau.

Ini satu ciri lagi dari Beliau, menerima kehadiran semua orang – ciri yang cukup merepotkan stafnya! Jadwal beliau luar biasa melelahkan, tak jarang anggota rombongan beliau harus gantian karena tidak sanggup secara fisik dan mental mendampingi beliau sepanjang tahun – padahal umur Beliau kini sudah 75! Staf Beliau kewalahan mengatur waktu, terpaksa intervensi menolak permintaan bertubi-tubi agar Beliau bisa istirahat.

Kemana pun HH Dalai Lama pergi, ia selalu memperhatikan orang di sekitarnya, tidak peduli tukang sapu ataupun sekuriti, presiden atau pembesar lainnya, kalau sempat semua akan disambutnya dengan kehangatan khas yang sama. Dalam berbagai situasi dimana ada wejangan dharma yg dihadiri kerumunan puluhan ribu orang pun, HH tetap memantau sifat hampir setiap orang yang hadir – entah bagaimana caranya, tapi itulah kesan saya yang timbul setelah saya perhatikan bagaimana Beliau berinteraksi dengan orang-orang itu. Walaupun tentunya tidak mungkin menyambut semua satu per satu Beliau pasti akan berhenti sejenak menyambut salah satu hadirin secara pribadi saat keluar atau masuk.

Bahkan tahun ini, dalam situasi wejangan dharma yang cukup formil di Kullu, ada satu lelaki India yang setengah baya lebih nyelonong masuk ke ruang temple tempat kami semua berkumpul. Memang biasa orang India yang rasa baktinya sangat kuat akan masuk saja saat seorang Lama mengajar dan mengitari altar sambil memberi hormat dari kejauhan, tanpa rasa canggung terhadap ratusan orang yang sedang duduk penuh konsentrasi mendengar ajaran. Tiba-tiba pria itu melangkah langsung mendekati tempat duduknya HH Dalai Lama. Kaget, kontan seorang sekuriti kekar loncat menyergapnya dengan agak kasar. HH Dalai Lama  menegur sekuritinya, bertanya pada pria itu dan kemudian memberi izin pada pria itu mendekat. Setelah pria itu dicek untuk senjata, sekuritinya terpaksa melepaskan pria itu. Pria itu mendekat, ternyata hanya ingin memberi hormat langsung. HH Dalai Lama langsung mengulurkan tangan untuk menjabat tangan pria itu, pria itu penuh emosi menekan tangan Beliau ke dahinya sebagai tanda hormat, lalu pergi dengan tenang. Kemudian HH Dalai Lama menyambung lagi ajarannya, seolah kejadian biasa.

Beliau prihatin atas kekerasan apapun, dan juga pelanggaran hak siapapun. Suatu saat melihat betapa keras terjadinya diskriminasi terhadap kaum Muslim di negeri Barat setelah peristiwa 9/11 beliau berkata bahwa dirinya adalah pembela Islam yang sejati! HH Dalai Lama sangat prihatin sekali dengan apa yang kini terjadi di dunia. Beliau melihat bahwa sebenarnya yang harus terjadi adalah perkembangan suatu etika sekuler yang humanis, lintas agama, lintas suku, lintas bangsa. Beliau bekerja keras untuk itu, dan mau tidak mau juga berinteraksi dengan politik. Sebenarnya secara pribadi HH Dalai Lama tidak senang dengan dunia politik, namun mau tidak mau demi rakyatnya ia harus berhadapan dengan dunia itu. Beliau sendiri sudah berupaya sedapat mungkin untuk menciptakan demokrasi untuk rakyat Tibet, dan sudah lebih dari dua dasawarsa sistem pemilu diterapkan dikalangan orang Tibet di pengasingan. Namun demikian harus diakui bahwa kebanyakan orang Tibet masih menginginkannya sebagai pemimpin tunggal. Cukup ironis karena Beliau sendiri melihat bahwa untuk bisa bertahan sebagai bangsa yang autonom orang Tibet harus menganut demokrasi.

Beban yang dipikulnya sungguh berat – di satu sisi pihak RRC menekan, mencerca dan memilintir fakta pada setiap kesempatan, di sisi lain ada unsur rakyatnya sendiri yang lebih radikal yang menginginkan perlawanan terhadap RRC dengan kekerasan dan tidak puas dengan upaya damai yang dilakukan Beliau. Belum lagi para politisi dunia yang bak bunglon berubah sikap setiap saat, mulai dari Mao Tse Tung yang membohonginya, PBB yang menelantarkannya dulu,  sampai para pemimpin dunia sekarang – kadang mendukung, kadang terbungkam saja. Walau demikian HH Dalai Lama tetap tegar, tekun mengupayakan solusi damai untuk Tibet agar bisa mempertahankan budaya dan agamanya.

Di dunia ini, rasanya hanya satu orang seperti beliau. Tidak sedikit orang-orang luar biasa berprestasi di dunia internasional yang mengakuinya. Pada satu-satunya kesempatan saya bertemu dengannya,  pemenang hadiah Nobel lainnya, Uskup Agung Desmond Tutu pernah berujar penuh semangat: “I love His Holiness the Dalai Lama! Sooooo much compassion!”

Tapi sesungguhnya daripada hanya mengagumi beliau habis-habisan, lebih baik lagi kalau kita bisa menjadikannya panutan bagi diri kita sendiri. HH Dalai Lama sebenarnya tidak ingin didewakan. Beliau lebih memberi contoh bahwa kita bisa mengubah pola pikiran kita, kita semua sebagai manusia bisalah berkembang masing-masing. Kalau kita tidak kembangkan welas asih yang proaktif seperti halnya beliau lakukan, bagaimana kita akan menyelesaikan begitu banyak masalah di dunia yang nan rumit ini?

THE SWEEPER

Almost every year I take a month or so off to attend a Buddhist teaching retreat in a monastery in the Himalayas led by Dagpo Lama Rinpoche. Not only is Rinpoche incredibly learned, he is a practitioner of exceptional quality and low key humility whose kindness is legendary. There is a gentle but firm discipline that pervades the place.

The monks, young and old, study year round, and their days are filled with prayer, study, debate, reflection and the like. Several of them spend a good part of the year in the great Tibetan university monasteries in the south of India, most notably Drepung Gomang. In short there are few slackers, it is inspiring to be there.

When I am there, I have fallen into the habit of doing kora or circumbulations of the temple, a form of paying respect in the Buddhist tradition known in Sanskrit as pradakshina, at dawn when it is quiet. Over the last several years the one other person who is invariably also doing the kora is a burly lay person who is basically the sweeper of the monastery grounds. Two of his sons are monks at the monastery, one has risen to become discipline master.

Dorje, such is his name, and I usually greet each other mutely as my Tibetan is next to none, but with big smiles nonetheless. We each do our own thing, and eventually he goes off and starts sweeping the grounds, cleaning out the trash bins and taking care of whatever other odd job needs to be done. Initially when he first came to stay at the monastery he paid a nominal sum for room and board. But soon his spontaneous efforts at keeping the place clean turned into a fixed routine, and the administrators decided to waive even that nominal sum as he works hard. Dorje-la has become part of the institution.

There is much to reflect on during the teachings, which usually are given in two sessions a day including a group prayer session for total of about 5 hours a day. The rest of the time is spent on review, reflection, and other studies.

My dawn kora helps me clear my head and get me focused for the day. It is also somewhat soothing to hear Dorje-la’s prayers as he ambles around.

On the second to last day he started saying something to me in a mixture of Hindi and Tibetan. I caught the words “money” and “shoes” but couldn’t quite figure out what he was saying. I thought perhaps he was asking me for money to buy shoes. Though actually it was not such an unreasonable request, for some strange reason I felt a little disappointed, which I also felt a little ashamed of. After all we had formed a friendship of sorts, and I was clearly in a position to grant such a small favor, so what was wrong with that if this friend was in need? Did I really want to set some lofty, complicated standard to this friendship with this simple man?

Shortly thereafter a nun I knew appeared and I asked her to translate. What Dorje was saying was this. “Yesterday I was given an envelope with money as a contribution from you all (it has become a tradition for the participants at the retreat to pool money to offer to the cooks etc). It was a lot of money, enough to buy a good pair of shoes. I am going to buy a new pair of shoes so I can do more kora and make prayers for all of you…”

My friend the nun and I were quietly stunned. There were tears in my eyes as she said to me – “That is how we should be…”