Tahayul atau Peka?

Ternyata bangsa Indonesia masih saja lebih terpatok pada mitos-mitos kesaktian gaib ketimbang pada kenyataan. Contohnya, kini kita begitu sibuk mengkultuskan Mbah Maridjan, sampai-sampai jadi bahan laporan CNN. Padahal gara-gara beliau tidak mau turun gunung tak sedikit orang lain tewas, termasuk wartawan dan dokter yang jadi korban ketika berusaha membujuknya turun gunung. Contoh lain, kita ramai-ramai membuat isyu bahwa bencana ini adalah kutukan terhadap SBY – seolah kalau jadi presiden bisa menghentikan gerakan lempengan geologis.

Kalau kita perhatikan contoh pertama tadi, sepertinya meskipun sudah berada pada abad ke-21 dengan segala ilmu pengetahuan yang canggih, kita tetap terobsesi dengan ‘orang pinter’ yang bisa mengatur segala dengan kekuatan gaib. Sudah rutin kalau bikin acara harus setor dulu ke pawang hujan. Walaupun belum pernah terbukti bisa (dan juga belum pernah terbukti tidak bisa)  banyak pelaku yang  panen duit dengan bisnis ‘atur alam’. Apa perlu kita bikin lomba pawang? Atau mungkin sistem perizinan pawang? Yang terkahir ini pasti bisa jadi posisi ‘basah’, bayangkan nanti bahkan bisa ada “Menteri Perpawangan”.

Jujur kata, orang-orang seperti pawang dan ‘juru kunci’ punya makna dan fungsi yang penting dalam masyarakat tradisional. Mereka mengingatkan kita agar menghormati alam sebagai sumber kehidupan kita, agar kita bertindak lebih bijak terhadap alam. Mereka sebenarnya mediator, bukanlah diktator.

Lewat sejarah lisan, umpamanya, para rato di Sumba bisa tahu tanda-tanda dan waktu yang baik untuk bercocok tanam, pemali-pemali yang berdampak langsung pada survival suku masing-masing. Atau para Pekaseh subak di Bali pun bisa mengatur musi tanam seantero wilayah subak sesuai dengan musim dan pembagian air dengan patokan siklus odalan-odalan di pura dan dugul subak.

Manusia Indonesia modern memang paradoks, berpendidikan namun tidak berpikir panjang tentang apa yang mereka lakukan terhadap alam, seenaknya merusak demi kepentingan sendiri. Di lain kesempatan, manusia yang sama percaya dan terkesima dengan segala yang berbau klenik.

Tetapi sebelum kita ramai-ramai mengupayakan arus balik masyarakat modern kembali berkiblat kepada para pawang, dukun, dan sebagainya, sebaiknya kita ingat bahwa sistem-sistem tradisional tidak semua sempurna. Tidak sedikit juga dari warisan kepercayaan yang bodoh pula, bahkan tidak sedikit yang berpeluang untuk disalahgunakan. Pada kasus Mbah Maridjan saja, yang sosoknya terkenal “bersih” dalam pengabdiannya, ada ‘daerah kelabu’: mau saja membintangi iklan Extra Joss, meskipun hasil dibagikan ke masyarakat desanya. Mungkin bagi Mbah Maridjan tujuannya jernih, murni untuk membantu warga desanya. Namun perlu juga kita pertanyakan mengapa pihak Extra Joss melihat bahwa yang gaib itupun bisa jadi komoditas, atau minimal dikaitkan dengan sales?

Kenapa begitu sulit kita memakai akal sehat? Perlu sekali kita memilah antara kepekaan terhadap alam dan sikap ‘sok ngatur’ alam. Para “juru kunci” bertugas mengkomunikasikan pada masyarakat apa yang mereka hayati tentang alam sekitar. Tapi kita malah berusaha membalikkan arah komunikasi dengan mencoba menyuruh alam menuruti kehendak kita. Lewat jasa para pawang, hujan disuruh berhenti, lahar dari letusan gunung berapi diharapkan berbelok. Kalau sang pawang “berhasil” dibilang sakti, kalau “gagal” dibilang “kurang sakti”. Tak jauh beda dengan dagelan.

Yakin atau tidak pada mereka, ada atau tidak ada pawang, juru kunci dan sebagainya, toh bencana alam tetap akan terjadi dan tetap berpotensi mengakibatkan korban. Waktu Merapi meletus zaman dulu, apa tidak mungkin juru kuncinya lebih “sakti” lagi dibanding Mbah Maridjan? Dan ternyata tetap saja meletus.

Alam bergerak dengan kekuatannya sendiri. Bukan rahasia lagi kalau melawan kekuatan-kekuatan itu ada konsekuensinya. Anak kecil pun tahu bila dia melempar batu keatas (di bumi ini) sudah barang pasti batu itu akan jatuh.

Tapi kita tetap merasa segala sesuatu yang terjadi di alam itu adalah akibat perbuatan kita. Mungkin ini runut juga dengan keyakinan bahwa kita bisa atur

Alam dengan berbagai upacara, tapi kalau ada orang melakukan  kesalahan menurut kerpercayaan kita, maka dia akan kena bencana. Dari pandangan itu loncatan ke pemikiran berikutnya mudah: yaitu bahwa bila seseorang bertindak salah terhadap diri atau suku kita, alam akan membalasnya. Bahwa ‘kesalahan’ tersebut pasti merupakan suatu penilaian yang sangat subjektif rupanya tidak mengganggu hati nurani!

Jangankan masyarakat biasa, pada tahun 2010 bahkan ada menteri kabinet dan anggota DPR yang belum sadar bahwa terjadinya bencana-bencana alam bukan berarti kutukan karena pelanggaran moral, melainkan sesuatu yg ‘alami’.

Yang terkutuk adalah cara kita menghadapinya: para geolog sudah memberi peringatan tsunami, kurang ditanggapi oleh aparat setempat. Kita menggundulkan hutan lalu bengong kalau kena banjir lumpur. Ketika bencana terjadi, kita kurang siap; bantuan terlambat, lagipula tidak effektif. Kita hidup diatas pertemuan lempengan geologis yang termasuk paling labil di bumi namun tidak peka akan kekuatan alam; malah kita mencoba mengaturnya dengan gaib. Kita sudah kehilangan jalan tengah antara dua ekstrim: di satu pihak menelan mentah setiap tahayul yang muncul, di lain pihak membuang segala kebijaksanaan dan pengetahuan yang kita warisi dari leluhur sendiri.

Rio Helmi, Bali


Leave a Reply

LEAVE A REPLY

Your email address will not be published. Required fields are marked *